Begini Dampak Pandemi Covid-19 Pada Perekonomian Situbondo

Begini Dampak Pandemi Covid-19 Pada Perekonomian Situbondo
Ekonomi
Prayudho BJ

SITUBONDO- Dampak Pandemi Covid-19 secara umum telah menjalar di semua bidang kehidupan manusia. Termasuk jalannya perekonomian di Kabupaten Situbondo yang terseok. Hal itu disampaikan Kasi Neraca wilayah dan Analisis Statistik BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Situbondo, Prayudho BJ, Senin (1/6/2020) kepada suaraindonesia.co.id.

"Perekonomian Situbondo dapat dilihat pada PDRB triwulanan yang tahun ini mulai dihitung dalam status exercices. Pertumbuhan ekonomi triwulan 1 2020 (Januari – Maret) mayoritas masih tumbuh, namun tumbuh melambat. Secara umum pertumbuhan ekonomi melambat 3,53 persen dibanding triwulan 1 tahun 2019 yang tumbuh 4,89 persen. Secara global dunia, pertumbuhan pada triwulan tersebut mayoritas mengalami kontraksi (negative) atau perlambatan," ucap Prayudho.

 Pertumbuhan Situbondo sebenarnya, imbuh dia, di atas pertumbuhan Nasional ( 2,97 persen) dan Jawa Timur (3,04 persen). Hal ini terutama ditopang oleh pertanian tanaman pangan yang puncak panennya terjadi di Bulan Maret, sementara secara nasional dan Jawa Timur bergeser di bulan April atau triwulan kedua. 

"Data nasional menunjukan penurunan tajam wisatawan mancanegara mulai terjadi pada pertengahan Februari, namun tempat-tempat wisata lokal masih buka hingga pertengahan Maret. Pukulan terhadap ekonomi Pariwisata dampak Covid-19 mulai ditunjukan dengan melambatnya pertumbuhan kategori jasa lainnya, yang tumbuh melambat 4,29 persen, kategori penyedia jasa akomodasi dan  penyedia makan minum yang tumbuh melambat 5,47 persen, seiring berbagai kebijakan larangan bepergian dan WFH serta SFH," paparnya.

Ditambahkan, untuk kategori perdagangan masih tumbuh lumayan tinggi yakni di atas 6 persen walau melambat dibandingkan triwulan 1 tahun 2019 yang sebesar 7,69 persen. Perdagangan komoditas pakaian merupakan salah satu penekan pertumbuhan pada kategori perdagangan ini, sejalan dengan terkontraksinya konsumsi rumah tangga secara nasional pada sub komponen konsumsi pakaian, alas kaki dan jasa perawatan sebesar minus 3,29 persen. 

Sementara, gejala penurunan daya beli masyarakat sebagai akibat melambatnya aktifitas ekonomi akibat Covid-19, secara nasional dapat dilihat dari melambatnya konsumsi rumah tangga sebesar 2,84 persen.

Mengingat pentingnya daya beli masyarakat dalam struktur perekonomian, lanjut Prayudho, pemerintah berupaya untuk menstabilkan harga dengan menjaga pasokan dan distribusi barang, sehingga secara nasional inflasi terjaga.  Selain itu, bantuan sosial mulai digelontorkan pada triwulan ke 2 sebagai buffer dari indikasi terkontraksinya beberapa kategori yang dapat memicu penurunan pendapatan masyarakat yang berakibat penurunan daya beli. Secara umum berbagai bantuan sosial ini mengacu pada penduduk berpendapatan rendah, padahal sangat mungkin ada banyak dari mereka yang berpendapatan menengah tiba-tiba saja kehilangan sebagian besar pendapatannya pada triwulanan kedua ini. Artinya, potensi kenaikan persen kemiskinan mungkin tidak terhindarkan.
 
"Gambaran perekonomian triwulan kedua, dapat dilihat dari proyeksi ekonomi yang dilakukan oleh Dosen Fakultas Ekonomi Unars, Dr. Mohammad Yahya Arief,M.Si yang sekaligus Tenaga Ahli pada Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian Pada masyarakat Universitas Abdurachman Saleh Situbondo. Pertumbuhan ekonomi Situbondo mungkin tidak akan lebih dari 1 (satu) persen. Dan ini merupakan tekanan terdalam bagi perekonomian Situbondo sepanjang dekade ini," terangnya.

Dia menjelaskan, sub kategori tanaman pangan yang pada triwulan sebelumnya masih menikmati pertumbuhan, namun pada triwulan kedua  mengalami penurunan secara drastis dengan perkiraan pertumbuhan minus dua persen.  Adanya hama tikus dan burung serta pengendalian yang minim sebagai salah satu penyebab penurunan produksi. 

" Petani mulai mengefisienkan proses produksi pertanian untuk mensiasati turunnya pendapatan mereka. Akibatnya banyak buruh tani tidak terserap. Mereka pergi ke gunung dan mulai menanam tembakau. Karena itu Sub kategori perkebunan kemungkinan tidak akan terkontraksi walau mungkin tumbuh melambat. Secara umum kategori pertanian akan tumbuh terkontraksi melebih triwulan 1 y o y  yang berada pada kisaran minus 3 – 4 persen. Hampir semua subkategori industri terkontraksi kecuali kategori sub kategori makanan dan minuman serta sub kategori pengolahan tembakau. Sementara industri yang berhubungan dengan obat-obatan dan obat tradisional akan meningkat tajam di atas 10 persen. Hampir keseluruhan kategori jasa tenggelam dengan pertumbuhan minus, seperti jasa pendidikan. Sementara hanya sedikit yang tumbuh di kisaran satu persen, seperti kategori jasa penyedia keuangan. Namun lain halnya dengan kategori informasi dan komunikasi serta kategori jasa kesehatan, kedua kelompok kategori tersebut akan menikmati pertumbuhan di atas 10 persen," jelasnya.

Gambaran ekonomi dari perekonomian triwulan 1 dan proyeksi ekonomi triwulan kedua tersebut, imbuh Prayudho, memberikan gambaran konkrit dampak ekonomi akibat Covid-19 di Situbondo. Penanggulangan kesehatan beririsan dengan upaya pemulihan ekonominya. Perubahan yang tiba-tiba membuat shock hampir semua kategori perekonomian. Ketika tiba-tiba sumber pendapatan kita berkurang drastis, kemampuan daya beli jadi terbatas, keamanan menjadi rawan, dan segala problem sosial bermunculan. Kebutuhan tersier mulai ditinggal (pembelian kendaraan), kemudian kebutuhan sekunder berkurang drastis (konsumsi perumahan dan perlengkapan, konsumsi hotel serta pakaian).

"Jangan sampai kebutuhan primer (pangan) juga terabaikan. Karena di titik inilah kelangsungan hidup masyarakat tergantung. Melihat rekam jejak pertumbuhan ekonomi kategori Pertanian di Situbondo, Pemerintah tidak boleh abai pada pembangunan pertanian," pungkasnya.(*)


Kontributor : Irwan Rakhday
Editor : Imam Hairon
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar